PSIKOLOGI SEBAGAI AKAR ILMU KOMUNIKASI
A. PENDAHULUAN
Psikologi
merupakan salah satu disiplin ilmu yang mengkaji kejiwaan manusia sebagai
makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dengan struktur dan fungsi yang sangat
sempurna bila dibandingkan dengan makhluk Tuhan lainnya. Dalam konteksnya
Psikologi mencoba menganalisis bagaimana cara berkomunikasi yang baik antar individu, maupun individu dengan
kelompok. Psikologi menciptakan bagaimana pesan yang disampaikan menjadi
stimulus yang menimbulkan respons bagi individu yang lain, bagaimana
lambang-lambang dapat bermakna dan bisa mengubah perilaku orang lain. Itulah
sebabnya psikologi dapat dikatakan sebagai akar ilmu komunikasi. psikologi
sebagai akar ilmu komunikasi merupakan ilmu yang berusaha menguraikan,
meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral (perilaku) dalam
berkomunikasi. Disinilah tugas sebagai komunikator (encoder) melakukan proses komunikasi intrapersonal (encoding) dengan menggunakan seluruh
energi yang dimilikinya agar pesan yang akan disampaikan kepada komunikan
(decorder) dapat diterima dengan jelas, dan komunikan pun dapat melakukan umpan
balik (feed back) yang baik terhadap
pesan yang disampaikan. Psikologi sebagai akar ilmu komunikasi merupakan
landasan ilmiah kedua setelah filsafat, terfokus bagaimana komunikasi terjadi
pada diri manusia (intrapersonal)
yang melibatkan proses sensasi, asosiasi, persepsi, memori, dan berfikir.
Proses
sensasi merupakan proses penyerapan informasi (energi/stimulus) yang datang
dari luar melalui pancaindra yang menghubungkan organisme manusia dengan
lingkungannya. Sensasi merupakan pengalaman elementer yang segera dan tidak
memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual terutama berhubungan
dengan kegiatan alat indra (Dennis Coon, dalam Benyamin B. Wolman: 1973:343).
Sumber informasi yang mempengaruhi proses sensasi bisa berasal dari dunia luar (eksternal) yang diindrai oleh eksteroseptor seperti telinga atau mata
serta informasi dari dalam yang diindrai oleh interoseptor melalui sistem peredaran darah. Disinilah tugas awal
komunikator bagaimana menciptakan proses sensasi yang baik yang dapat membuat
komunikan mampu mengendalikan perasaannya ketika dia menerima informasi yang
disampaikan.
Proses
asosiasi merupakan pengalaman dan kepribadian yang memengaruhi proses sensasi
yang dapat diartikan sebagai suatu predis-posisi yang meliputi ruang lingkup
pengetahuan dan pengalaman untuk menemukan dan memahami suatu kepribadian. Asosiasi
disini merupakan langkah ke dua setelah komunikan menghasilkan sensasi terhadap
informasi yang diterimanya. Hal yang mempengaruhi proses sensasi yaitu adanya
stimulus (rangsangan) dan respons (feed
back). Semakin banyak stimulus yang berikan dan respon sering terjadi maka
asosiasi yang terbentuk semakin kuat (hukum latihan “law of exercise”) sedangakan jika stimulus dan respons yang
dihasilkan diikuti oleh suatu kepuasan, maka asosiasi yang terbentuk akan
semakin meningkat (hukum akibat “ law of
effect”). Kedua hukum ini sama–sama akan menghasilkan fedback yang baik
terhadap pengetahuan serta kepribadian
komunikan.
Proses
persepsi merupakan pemaknaan atau arti
terhadap informasi (energi/stimulus) yang masuk kedalam kognisi (pikiran)
manusia. Persepsi mampu memberikan makna pada stimuli indrawi dengan melibatkan
sensasi, atensi (perhatian), ekspektasi, motivasi, dan memori (Desiderato, 1976
: 129). Proses ini dimulai ketika informasi yang disampaikan masuk ke dalam
kognitif komunikan, kemudian diserap oleh afektif komunikan. Dua hal ini yang
akan menciptakan psikomotor komunikan terhadap baik atau buruknya informasi
yang diterima.
Proses
Memori merupakan stimuli yang telah diberi makna, direkam, dan kemudian
disimpan didalam otak manusia. Fungsi dari memori itu sendiri mampu membuat
organisme manusia untuk merekam fakta tentang dunia dan mengaplikasikannya ke
dalam pengetahuan untuk membimbing perilakunya. Proses memori ketika komunikan
menerima informasi adalah merekam (encoding)
yaitu pencatatan informasi melalui reseptor indra dan sirkuit syaraf internal,
kemudian penyimpanan (storage) yang
menentukan berapa lama informasi itu berada didalam diri,dalam bentuk dan
tempat yang berbeda, dan komunikan mampu melakukan pemanggilan (retrieval) atau “mengingat kembali’
dengan menggunakan informasi yang disimpan.
Jenis-jenis memori antara lain : Pengingatan (recall), pengenalan (recognition), belajar lagi (relearning), dan reintegrasi (reintegration)
Proses
berfikir merupakan akumulasi dari proses sensasi, asosiasi, persepsi, dan
memori yang dikeluarkan untuk mengambil suatu keputusan. Berfikir adalah
kegiatan yang dilakukan untuk memahami realitas dalam rangka mengambil
keputusan (decision making),
memecahkan persoalan (problem solving),
dan menghasilkan sesuatu yang baru (creativity).
Salah satu sumber berfikir adalah menetapkan suatu keputusan, keputusan yang
kita ambil sangatlah beragam seperti a) keputusan merupakan hasil dari
berfikir, dan merupakan hasil usaha intelektual b) keputusan selalu melibatkan
pilihan dari berbagai alternatif c) keputusan selalu melibatkan tindakan nyata,
walaupun pelaksanaannya boleh ditangguhkan atau dilupakan. Adapun faktor-faktor
personal yang sangat menentukan terhadap apa yang diputuskan antara lain :
a)kognisi, b) motif c) sikap.
B. KETERKAITAN
PSIKOLOGI DENGAN KOMUNIKASI
Komunikasi
mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Komunikasi akan berlangsung
dengan baik apabila terdapat kesamaan makna antara komunikator dengan
komunikan. Dalam konteks psikologi komunikator harus mempunyai gambaran yang
jelas tentang keadaan dengan tujuan yang telah ditentukannya. Komunikasi akan
berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangkan
acuan yaitu paduan pengalaman dan pengertian yang pernah diperoleh dari
komunikan.formulasi komunikasi menurut harold lasswell :
a). Who( siapa yang berbicara)
b).say what (apa yang
dibicarakan)
c). In which channell ( menggunakan saluran apa )
d). To whom ( kepada siapa)
e).with what effect. ( bagaimana pengaruhnya)
Berdasarkan formulasi tersebut,
komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan
melalui media yang dapat menimbulkan efek tetentu. Kita dapat memahami hubungan
psikologi dengan komunikasi dengan memahami dengan beberapa pengertian yang
dapat disimpulkan bahwa komunikasi
bagaimanapun bentuk kontekstualnya adalah peristiwa psikologis dalam diri
masing-masing peserta komunikasi. dengan kata lain, psikologi mencoba
menganalisis seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. pada diri
komunikan, psikologi menganalisis karakteristik manusia komunikan serta
faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi perilaku komunikasinya.
Pada diri komunikator, psikologi melacak sifat-sifatnya dan bertanya.
Komunikasi
sangat esensial untuk pertumbuhan kepribadian manusia. Kurangnya komunikasi
akan menghambat perkembangan kepribadian. Komunikasi amat erat kaitannya dengan
perilaku dan pengalaman kesadaran manusia. Namun demikian komunikasi bukan
subdisiplin dari psikologi. Sebagai ilmu, komunikasi dipelajari bermacam-macam
disiplin ilmu, antara lain sosiologi dan psikologi. Komunikasi sangat esensial
dalam masyarakat manusia sehingga setiap orang yang belajar tentang manusia
pasti akan menolehnya sekali waktu. Dalam psikologi komunikasi, komunikasi akan
berjalan dengan efektif apabila menimbulkan lima hal yaitu :
1. Pengertian :
penerimaan yang cermat dari isi stimulus seperti yang dimaksudkan oleh
komunikator
2. Kesenangan :
komunikasi fatis yang dimaksudkan menimbulkan kesenangan. Komunikasi inilah
yang menjadikan hubungan antara komunikator dengan komunikan semakin hangat,
akrab, dan menyenangkan.
3. Memengaruhi
sikap : komunikasi yang bersifat persuasif memerlukan pemahaman tentang
faktor-faktor pada diri komunikator, dan pesan yang menimbulkan efek pada
komunikan. Persuasi disini dapat didefinisikan sebagai proses memengaruhi
pendapat, sikap, tindakan dengan menggunakan manipulasi psikologis sehingga
orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri.
4. Hubungan
sosial yang baik
5. Tindakan
Faktor
Personal Yang Memengaruhi Perilaku Manusia
Terdapat dua faktor antara lain :
1.
Faktor Biologis : faktor ini terlibat dalam seluruh
kegiatan manusia. Menurut Wilson, perilaku sosial dibimbing oleh aturan-aturan
yang sudah di program secara genetis dalam jiwa manusia.
2.
Faktor
Sosiopsikologis. Faktor ini dapat diklasifikasikan ke dalam tiga komponen
yaitu:
a.
Komponen
afekif : aspek emosional dari faktor sosiopsikologis, didahulukan karena erat
kaitannya dengan pembicaraan sebelumnya.
b.
Komponen
kognitif : aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia.
c.
Komponen
konatif : aspek volisional atau aspek dorongan atau gairah yang berhubungan
dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.
Sedangakan untuk motif sosiogenesis
(motif sekunder) menurut para ahli adalah : Keinginan memperoleh pengalaman
baru, keinginan untuk mendapatkan respons, keinginan untuk pengakuan, keinginan
akan rasa aman, kebutuhan berprestasi, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan
berkuasa, kebutuhan akan penghargaan, kebutuhan untuk pemenuhan diri. Sedangkan
menurut Melvin H.marx motif sosiogenesis adalah : kebutuhan organisme, motif
ingin tahu, motif kompetensi, motif prestasi, motif-motif sosial, motif kasih
sayang, motif kekuasaan, dan motif kebebasan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa
komunikasi sangat erat kaitannya dalam kehidupan. Komunikasi merupakan realita
pokok kehidupan manusia. Komunikasi dapat dikatakan bagaimana seseorang
berusaha mengadakan hubungan dengan orang lain dengan menggunakan panca
indrannya. Komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh
komunikator cocok dengan kerangkan acuan yaitu paduan pengalaman dan pengertian
yang pernah diperoleh dari komunikan. komunikasi bagaimanapun bentuk
kontekstualnya adalah peristiwa psikologis dalam diri masing-masing peserta
komunikasi. dengan kata lain, psikologi mencoba menganalisis seluruh komponen
yang terlibat dalam proses komunikasi.
dilihat dari konteks psikologi sebagai ilmu komunikasi, kaitannya
komunikator dengan komunikan yaitu bagaimana komunikator memilih sasaran dan
menilai karakter komunikan agar informasi yang akan disampaikan mampu dikemas
dengan baik. Komunikator harus mampu memberikan energi yang luar biasa kepada komunikan
melalui informasi yang akan disampaikan. Komunikator melakukan proses seperti
sensasi, asosiasi, persepsi, memori, dan berfikir. Komunikan itu sendiri yaitu
bagaimana cara mereka menangkap dan menyimpan informasi yang dikemas melalui
proses tersebut agar informasi yang disampaikan dapat memberikan perubahan yang
positif terhadap diri komunikan. Tidak terlepas dari bagaimana faktor internal
dan faktor eksternal yang dimiliki oleh komunikan. Dengan adanya komunikasi
dapat memberikan perubahan esensial dalam kehidupan kepribadian manusia. Itulah
sebabnya mengapa psikologi sangat erat kaitannya dengan proses komunikasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar