TUGAS KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
(pernikahan antar budaya yang berbeda)

Disusun oleh
:
OKTIA PUTRI :
D1E013027
ILMU
KOMUNIKASI
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
BENGKULU
Pernikahan Antar Budaya
(suku minang dan suku sunda)
Realitas budaya berpengaruh dan berperan
dalam komunikasi. Komunikasi menuntun kita untuk bertukar informasi dengan
orang lain. Sehingga kita dituntun untuk memahami budaya orang lain.
Sebagaimana budaya yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, maka
praktik dan perilaku antar individu-individu dalam budaya tersebut berbeda-beda
pula.
Memahami budaya orang lain tidaklah
mudah, karena kita dituntun untuk memahami realitas orang lain. Dan dalam proses
ini tidak jarang terjadi prasangka
terhadap suku berbeda. prasangka tersebut menimbulkan pandangan yang meremehkan
masyarakat dan kebudayaan lain.
Tetapi perbedaan antar budaya/suku ini
menimbulkan pengetahuan baru dan rasa ingin mengenal lebih dalam lagi
budaya/suku tersebut. dalam proses mengenal budaya tersebut timbullah rasa
saling suka. Maka dari situlah terjadinya pernikahan antar budaya. Pernikahan
antar budaya ini sudah menjadi fenomena pada masyarakat modern.
Maka
disini saya membahas pernikahan antar suku yang berbeda yaitu antara suku sunda
dengan suku minang. Dimana pernikahan ini terjadi pada kakak saya sendiri. Dan
secara tidak langsung saya juga terlibat dalam menyesuaikan atau mengenal
budaya yang berbeda tersebut.
Perkenalan
ini terjadi ketika kakak saya pergi merantau ke Bandung. Sekitar dua bulan di
Bandung kakak saya berkenalan dengan seorang cewek, cewek tersebut menganut
budaya sunda. Proses pendekatan pun berjalan, dalam proses tersebut memang
tidak berjalan mulus karena ia harus mengenal kebiasaan atau adat istiadat
dalam suku sunda tersebut. proses perkenalan dan menyesuaikan diri membutuhkan
waktu yang lama yaitu sekitar dua tahun. Selama dua tahun tersebut antara cewek
tersebut dengan kakak saya saling mempelajari masing-msing suku mereka. Cewek
tersebut mulai belajar ngomong bahasa Padang, begitu pun sebaliknya.
Selama
dua tahun mereka memutuskan untuk menikah karena telah memahami satu sama lain
kebiasaan dari budaya/adat istiadat/suku tersebut. Dan pada 17 Agustus 2014 kemaren
mereka melangsungkan acara pernikahan. Usia pernikahan tersebut masih tergolong
muda yaitu 3 bulan. Acara pernikahannya diadakan di dua tempat, pertama di
Bandung kedua di Padang. Tujuan diadakan pernikahan di dua tempat tersebut
untuk saling menghargai dari masing-masing suku. Dan mulai sejak di sahkan,
cewek tersebut telah menjadi kakak ipar saya yang bernama Nopa. Ketika acara
pernikahan di Bandung sudah selesai mereka memutuskan ke Padang untuk melaksanakan
pernikahan sesuai dengan adat Minang. Kakak ipar saya berada 10 hari di Padang.
Dan selama itulah saya mencoba mengenal lebih mendalam lagi suku Sunda
tersebut. Selama berinteraksi saya menyimpulkan bahwa banyak sekali perbedaan
dari suku Minang dengan suku Sunda mulai dari apa yang tampak sampai dengan
kebiasaan sehari-harinya. Dan sekarang mereka belum mempunyai keturunan
sehingga gegar budaya atau dampak dari pernikahan antara dua suku yang berbeda
tersebut belum terlihat pada diri si anak.
Dari analisis diatas dapat disimpulkan
bahwa kita harus menghargai budaya orang lain selayaknya budaya sendiri.
Jadikan perbedaan untuk menambah pengetahuan baru kita. Memang membutuhkan
waktu yang lama untuk mengenal secara
lebih dalam lagi dan gegar budaya juga dialami oleh kakak saya yaitu pada tahap
awal perkenalan.
Berikut dokumentasi
pernikahan yang memakai adat minang
(1)

(2) (3)
Ket : 1. Kakak ipar saya namanya
Nopa
2. kakak saya (Fahmi) dan kakak ipar (Nopa)
3. kakak ipar (Nopa) dan saya (Tia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar