Flag Counter

Kamis, 03 Desember 2015

contoh komunikasi antar budaya

TUGAS KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
(pernikahan antar budaya yang berbeda)




  Disusun oleh :
OKTIA PUTRI       :  D1E013027




ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS BENGKULU



Pernikahan Antar Budaya
(suku minang dan suku sunda)
Realitas budaya berpengaruh dan berperan dalam komunikasi. Komunikasi menuntun kita untuk bertukar informasi dengan orang lain. Sehingga kita dituntun untuk memahami budaya orang lain. Sebagaimana budaya yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, maka praktik dan perilaku antar individu-individu dalam budaya tersebut berbeda-beda pula.
Memahami budaya orang lain tidaklah mudah, karena kita dituntun untuk memahami realitas orang lain. Dan dalam proses ini tidak jarang terjadi  prasangka terhadap suku berbeda. prasangka tersebut menimbulkan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain.
Tetapi perbedaan antar budaya/suku ini menimbulkan pengetahuan baru dan rasa ingin mengenal lebih dalam lagi budaya/suku tersebut. dalam proses mengenal budaya tersebut timbullah rasa saling suka. Maka dari situlah terjadinya pernikahan antar budaya. Pernikahan antar budaya ini sudah menjadi fenomena pada masyarakat modern.
            Maka disini saya membahas pernikahan antar suku yang berbeda yaitu antara suku sunda dengan suku minang. Dimana pernikahan ini terjadi pada kakak saya sendiri. Dan secara tidak langsung saya juga terlibat dalam menyesuaikan atau mengenal budaya yang berbeda tersebut.
            Perkenalan ini terjadi ketika kakak saya pergi merantau ke Bandung. Sekitar dua bulan di Bandung kakak saya berkenalan dengan seorang cewek, cewek tersebut menganut budaya sunda. Proses pendekatan pun berjalan, dalam proses tersebut memang tidak berjalan mulus karena ia harus mengenal kebiasaan atau adat istiadat dalam suku sunda tersebut. proses perkenalan dan menyesuaikan diri membutuhkan waktu yang lama yaitu sekitar dua tahun. Selama dua tahun tersebut antara cewek tersebut dengan kakak saya saling mempelajari masing-msing suku mereka. Cewek tersebut mulai belajar ngomong bahasa Padang, begitu pun sebaliknya.
            Selama dua tahun mereka memutuskan untuk menikah karena telah memahami satu sama lain kebiasaan dari budaya/adat istiadat/suku tersebut. Dan pada 17 Agustus 2014 kemaren mereka melangsungkan acara pernikahan. Usia pernikahan tersebut masih tergolong muda yaitu 3 bulan. Acara pernikahannya diadakan di dua tempat, pertama di Bandung kedua di Padang. Tujuan diadakan pernikahan di dua tempat tersebut untuk saling menghargai dari masing-masing suku. Dan mulai sejak di sahkan, cewek tersebut telah menjadi kakak ipar saya yang bernama Nopa. Ketika acara pernikahan di Bandung sudah selesai mereka memutuskan ke Padang untuk melaksanakan pernikahan sesuai dengan adat Minang. Kakak ipar saya berada 10 hari di Padang. Dan selama itulah saya mencoba mengenal lebih mendalam lagi suku Sunda tersebut. Selama berinteraksi saya menyimpulkan bahwa banyak sekali perbedaan dari suku Minang dengan suku Sunda mulai dari apa yang tampak sampai dengan kebiasaan sehari-harinya. Dan sekarang mereka belum mempunyai keturunan sehingga gegar budaya atau dampak dari pernikahan antara dua suku yang berbeda tersebut belum terlihat pada diri si anak.
Dari analisis diatas dapat disimpulkan bahwa kita harus menghargai budaya orang lain selayaknya budaya sendiri. Jadikan perbedaan untuk menambah pengetahuan baru kita. Memang membutuhkan waktu yang lama untuk mengenal  secara lebih dalam lagi dan gegar budaya juga dialami oleh kakak saya yaitu pada tahap awal perkenalan.














Berikut dokumentasi pernikahan yang memakai adat minang
 
(1)
  
(2)                                       (3)
Ket      : 1. Kakak ipar saya namanya Nopa
              2. kakak saya (Fahmi) dan kakak ipar (Nopa)
              3. kakak ipar (Nopa) dan saya (Tia)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar